Pesan Romo Yai Najib: Upacara Sebagai Wujud Ungkapan Syukur

Pesan Romo Yai Najib: Upacara Sebagai Wujud Ungkapan Syukur

Peringatan hari kemerdekaan kali ini kembali mengingatkan kita akan sosok panutan Simbah Yai R. Najib Abdul Qodir. Sosok yang tak banyak berkalam namun padat akan uswah dari tindak-tanduknya. Tepat lima tahun yang lalu, 16 Agustus 2017, sehari sebelum peringatan HUT ke-72 Republik Indonesia, beliau berpesan,

“Besuk kalau jam setengah 7 saya belum datang, nderes-nderes sendiri, terus ngaji sampai jam 8, setelah itu ikut ke halaman mengikuti upacara, mensyukuri anugerah kenikmatan kemerdekaan Indonesia 17 Agustus. Karena, dijajah selama 350 tahun kita sengsara. Kemudian, kita diberi anugerah merdeka melalui perjuangan pahlawan, kita harus mensyukurinya”.

Romo KH. R. Muhammad Najib Abdul Qodir

Seringkali para santri menganggap remeh acara-acara seremonial seperti halnya upacara bendera. Tidak sedikit dari mereka yang lebih memilih melanjutkan “ibadah” nya alias tidur dari pada mengikuti upacara dipagi hari. Padahal hakikatnya upacara bendera menjadi barometer kecintaan seseorang atas negerinya.

Dalam upacara berlaku prosesi-prosesi yang melambangkan kesakralan nilai suatu bangsa. Mulai sikap sempurna, pengibaran bendera, pelantunan lagu kebangsaan dan pembacaan pancasila semuanya terangkai begitu indah dalam “upacara”. Dari dawuh Romo Yai sangat tampak jika beliau tidak hanya menginginkan pelaksanaan upacara menjadi sebuah formalitas belaka beriring rasa lelah dan gerah akibat sengatan matahari.

Namun, dengan berdiri beberapa saat ini mengantarkan para santri pada titik dimana ia harus mampu ber tafa’ul (optimis) sekaligus memenuhi hatinya dengan rasa syukur atas kemerdekaan yang diberikan oleh Allah SWT. Rasa inilah yang ingin beliau tanamkan kepada para santri. Tidak semata cerdas dalam aspek religiusitas, namun juga bekal rasa nasionalis yang tinggi terhadap bangsanya.

Menjadi berarti bagi orang lain bukanlah hal mudah. Karenanya nabi pernah berpesan bahwa sebaik-baiknya manusia ialah yang paling berguna untuk orang lain. Bukan hanya soal seberapa banyak kebermanfaatan yang harus diperbuat. Namun juga sejauh mana kita berbenah dan memperbaiki diri. Sungguh mustahil keinginan menjadi berarti untuk orang lain, jika diri masih belum terselesaikan.

Beliau juga ingin menegaskan bahwa ketika para santri ingin berguna kepada orang lain. Maka langkah pertama yang harus dilakukan ialah dengan memperbaiki diri terlebih dahulu. Tak perlu muluk-muluk berdakwah kesana kemari, cukuplah dengan menggerakkan kaki menuju halaman mengikuti upacara dengan khidmat dan antusias yang tinggi. Sudahkah kita mampu berbuat demikian? Jika belum, marilah bermuhasabah ihwal kondisi kita masing-masing. Wallahu A’lam.